My library button
  • Book cover of Pada Sebuah Kapal Buku

    Buku yang Anda hadapi ini memuat esai-esai Muhidin M. Dahlan yang terserak dari 2003 sampai 2018. Enam puluh tujuh esai tersebut dirajut menjadi enam bab, yakni “Perbukuan”, “Kebijakan”, “Kesusastraan”, “Perpustakaan”, “Cendekiawan”, dan “Pelarangan”. Benang merah pengikat bab demi bab itu adalah literasi; bidang yang selama 20 tahun tak hanya ia akrabi, tetapi—jika melihat rekam jejaknya—juga membuatnya kerap bersitegang dengan pihak-pihak tertentu.

  • Book cover of Mencari Cinta

    “Tanpa cinta, kemanusiaan tak akan mungkin ada, bahkan dalam waktu satu hari saja.” ~ Erich Fromm, Art of Loving “Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. Sungguh indah, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya. Lagi pula, tak ada cinta yang muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu dari langit.” ~ Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia Buku ini adalah upaya menyibak lebih jauh hakikat cinta dari tinjauan kebudayaan populer, agama, dan pengalaman sehari-hari yang didapatkan dalam pergaulan sosial. Terdiri dari sebelas bab, buku ini mengurai banyak hal, antara lain: SATU: Mencari Cinta dalam Arus Zona Mabuk Teknologi DUA: Bentuk dan Jenis Cinta TIGA: Kekuatan Cinta KEEMPAT: Cinta adalah Kerinduan KELIMA: Cinta adalah Kebersamaan KEENAM: Memberi dan Menerima karena Cinta KETUJUH: Cinta sebagai Sebuah Prinsip KEDELAPAN: Cinta adalah Kecocokan Hati KESEMBILAN: Cinta Menuntut Ketunggalan dan Baik-Buruk Kecemburuan KESEPULUH: Mencari Cinta dalam Aura Diri Sang Ibu KESEBELAS: Cinta dan Pengaruhnya dalam Membentuk Kepribadian Utuh EPILOG: Kesunyian Manusia Mencari Cinta ==== Buku persembahan penerbit ScripTaManent

  • Book cover of Para Penggila Buku

    “Kalau kita membuka hati untuk buku, niscaya ia akan membuka isinya untuk kita” – (Taufik Rahzen) Semua berawal dari sebuah buku besutan Nicholas A Basbanes yang diterbitkan tahun 1995, A Gentle Madness: Bibliophiles, Bibliomanes, and The Eternal Passion For Books. Basbanes menguak kembali sejarah para penggila buku di Amerika sekira abad XIX. Ia mengumpulkan kliping koran-koran lawas dan mendapati nama-nama penggila buku dengan cerita yang mencengangkan. Blumberg si maling buku profesional, Henry Huntington dengan perpustakaan raksasa dan hasrat berburunya yang luar biasa, Rosenbach perantara yang lihai, hingga Ruth Baldwin sang ratu buku anak. Basbanes kemudian menelusuri hasrat terpendam para penggila buku itu. Dalam pencariannya itu, ia menemukan keunikan pada setiap individu berikut motivasi yang melatarinya. Ia pun menemukan mana yang bibliomania mana yang bibliofili. Buku yang Anda baca ini memperkaya catatan Basbanes itu dengan menyusuri secara bebas dunia buku meliputi enam bagian terbesar: kisah-kisahnya yang kaya, perpustakaan sebagai rumahnya, musuh-musuh abadi buku dan skandal yang menyertainya, bumbu bagaimana menulis buku, film-film yang mengambil latar dunia buku, revolusi medium buku, dan juga tokoh-tokoh yang menggilainya. Keseratus catatan dalam buku ini bisa dilihat sebagai serangkaian upacara penghormatan atas buku yang selama ini diakui mampu menghidupkan pijar-pijar nalar kreatif dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

  • Book cover of Terbang Bersama Cinta

    Pada dasarnya cinta memiliki etos sebagai kekuatan pembebas dan pencerah jiwa. Tapi kita saja yang kerap menghalang-halangi kemunculan potensi itu dengan tak mau tahu bahwa potensi itu ada dalam diri kita. Buku ini mendampingi mereka yang mau melihat lebih dekat dan lebih dalam etos kekuatan pembebas dan pencerah jiwa yang bersemayam dalam cinta. Menurut buku ini, cinta itu mampu membebaskan diri dari rasa puja-diri yang berlebihan, dari cinta yang melulu fisik, dan dari ideologi masyarakat yang memenjara. Cinta juga mampu memerdekakan kita dari 1001 keinginan sampah yang memampatkan laju perkembangan spiritual. Cinta itu juga berpotensi mendamaikan dan menyatukan mereka yang telah lama berseteru dingin/berpisah ke dalam sebuah rahim kebersamaan. Jadilah buku ini seperti setitik energi yang memantik berputarnya generator hidup untuk terus berada di jalur cinta. Mari rayakan hidup dengan cinta! ==== Buku persembahan penerbit ScripTaManent

  • Book cover of Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta

    Dengan sepeda tua yang ringkih, ditempuhnya jalan yang makin hari makin mulus dan ramai di seantero kota. Sebuah jalan yang dilihatnya dengan mata-sepi. Dari mata-sepi itulah ia memandang jalan menulis yang dipilihnya merupakan jalan sunyi. Ada yang kemudian terbunuh di tengah jalan dan ada pula yang menjauh. Tapi, bagi mereka yang sadar memilih jalan jalan kepenulisan, kesunyian bisa jadi semacam jembatan lintasan panjang untuk mereguk limpahan gagasan dan menemukan eksistensi diri. Buku ini merekam jejak paling awal seseorang yang memutuskan menjadi penulis dan melakukan interaksi yang intim dengan limpahan literasi yang disodorkan sebuah kota. Ia memberitahukan kepada kita sekaligus mewakili potret sebagian besar nasib penulis-penulis muda Indonesia dalam mengarungi samudera gagasan dan menyiasati tantangan hidup yang ganas. Oleh karena itu, si Aku dalam buku ini menyerukan semacam manifes penuh dendam dari kekalahan nasib: “Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia. Bila kalian memilih jalan sunyi ini, maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan berpikir untuk bunuh diri secepatnya.”

  • Book cover of Semesta di Balik Punggung Buku

    Penulis buku ini memiliki banyak gaya untuk mengutarakan penilaiannya atas buku-buku yang ia baca. Ada yang ditulis dengan gaya umum seperti memaparkan kelebihan dan kekurangannya. Ada yang diulas bergandengan dengan buku sejenis atau buku lain dari penulis yang sama. Ada yang ditulis mengikuti platform media sosial seperti Twitter, misalnya. Bahkan, ada yang tidak banyak diulas konten bukunya, tetapi lebih cenderung dibahas kejadian-kejadian apa yang menyertai kehadiran buku itu ke publik. Ke dalam enam bab, setumpuk resensi ini dibagi. Buku ini hadir untuk kembali menyuburkan geliat resensi buku tanah air. Ada semesta ide yang begitu luas dan penting di balik setiap punggung buku yang kita lihat di rak-rak toko buku atau perpustakaan. Resensi adalah media untuk membawa semesta itu ke dalam hati dan pikiran orang-orang di luar sana. Tentu saja, besar harapan buku ini bisa menstimulus ketertarikan Anda untuk serius menulis resensi di media.

  • Book cover of Inilah Esai

    Seperti halnya Gus Dur, esai adalah yang “bukan-bukan”; bukan puisi, bukan karya ilmiah. “Esai di antara puisi di pojok paling kiri dan karya ilmiah di sudut paling kanan,” sebut Zen R. S. dalam sebuah lokakarya menulis esai yang diselenggarakan Indonesia Buku di pojok Alun-Alun Selatan Keraton Yogyakarta pada 2010. Posisi esai lentur. Juga, bahasanya. Longgar, se­but Cak Nun, sekali lagi. Arena bermainnya luas. Mungkin, tipe seorang generalis, jika merujuk pada karakter pikiran khas ter­tentu. Oleh karena itu, jika esai diandaikan seperti gaya hidup, ia gaya hidup yang tidak linier, penuh kejutan, mencoba-coba seperti coba sana coba sini para perintis usaha, dan tak me­lupakan kese­nangan setelah bekerja sangat keras, adalah gaya hidup seorang esais. Buku ini menampilkan semesta esai dari masa ke masa. Juga, tentu saja, panduan bagaimana menulis esai disertai ratusan contoh dari esai-esai penting yang pernah ditulis penulis Indonesia.

  • No image available

  • No image available

  • Book cover of Akhlak Tasawuf

    Di abad 21 ini, modernitas dengan segenap kemajuan teknologi dan pesatnya industrialisasi membuat manusia kehilangan orientasi moral. Keterampilan manusia semakin hebat, kekayaan materi semakin menumpuk tetapi moral semakin mengalami penurunan dan kekosongan. Demikian pula adanya persaingan hidup yang semakin kompetitif dapat membawa manusia mudah stress dan frustasi. Pola hidup hedonisme dan materialisme semakin digemari, saat manusia tidak bisa menghadapi persoalan hidupnya, cenderung mengambil jalan pintasnya seperti mencuri, korupsi, flexing, bahkan banyak yang bunuh diri.